Kamu pernah nggak, liat anak sepupumu yang pinter banget, nilai matematika selalu 95, tapi pas disuruh ceritain project sekolah di depan keluarga, dia nunduk, bata-bata, kata-katanya berantakan? Atau lebih parah: dia nggak bisa bikin argumen sederhana kenapa dia suka hobby-nya. Ini bukan salah dia. Ini kegagalan sistem. Kurikulum 2025 kita lagi gencar banget ngejar answering skill: kemampuan mecahin soal, milih opsi, isi titik-titik. Tapi lupa ngajar anak untuk menyusun dan menyampaikan pikirannya sendiri. Mereka jadi pemecah kode, bukan pembuat cerita.
Dan ini bukan cuma masalah presentasi sekolah. Ini soal masa depan demokrasi. Gimana mau punya masyarakat yang kritis kalau generasi mudanya nggak terlatih buat mengartikulasikan ide?
Jurang Besar Antara Tahu dan Mampu Mengungkapkan
Anak sekarang jago banget cari jawaban. Google, ChatGPT, bimbingan belajar — semuanya answer-driven. Tapi begitu disuruh merangkai jawaban-jawaban itu jadi narasi yang koheren, yang punya awal, tengah, akhir, dan argumen? Mereka blank. Skill artikulasi itu seperti otot. Kalau nggak pernah dilatih, ya nggak akan kuat.
- Studi Kasus 1: Si Juara OSN yang Gagap di Diskusi Kelas. Ada anak, sebut saja Bima, kelas 5 SD. Juara Olimpiade Sains Nasional level kota. Dia bisa ngerjain soal fisika dasar yang rumit. Tapi guru bahasa Indonesianya bingung. Setiap tugas membuat ringkasan cerpen atau menjelaskan proses suatu hal dengan kata-kata sendiri, Bima selalu copy-paste dari internet, atau nulis dengan kalimat yang kaku banget, kayak robot. Saat diskusi kelompok, dia cuma diam. Dia punya pengetahuan, tapi nggak punya alat artikulasi untuk mengeluarkannya. Ini adalah jurang artikulasi: pengetahuan yang terperangkap di dalam kepala.
- Studi Kasus 2: Anak yang Bisa Bikin PPT Keren, Tapi Nggak Bisa Paparkan. Laporan dari guru kelas 6 di Jakarta: hampir 70% siswa bisa bikin slide PowerPoint yang bagus, penuh gambar dan animasi. Tapi begitu disuruh maju untuk presentasi 3 menit tanpa baca slide, mereka panik. Mereka nggak bisa improvisasi, nggak bisa elaborasi. Mereka cuma menghafal poin-poin. Kurikulum menilai hasil akhir (slide), bukan proses komunikasi (bagaimana menyampaikan isi slide itu). Survei ringan di forum parenting menunjukkan 8 dari 10 orang tua mengakui anak mereka lebih sering dapat tugas “cari jawaban & tulis” daripada tugas “ceritakan pendapatmu”.
- Studi Kasus 3: Dampaknya di Tingkat Remaja: Tidak Bisa Membela Posisi Etis. Bayangkan nanti, saat anak-anak ini remaja. Ada isu sosial kompleks di media. Mereka bisa baca semua fakta (answering skill: cari data). Tapi apakah mereka bisa membangun argumen yang rasional, terdengar, dan persuasif untuk membela suatu posisi? Atau mereka cuma akan share postingan orang lain, atau — lebih buruk — diam karena nggak percaya diri untuk bicara? Demokrasi butuh warga yang bukan cuma bisa milih di bilik suara, tapi juga bisa berdebat sehat, bernegosiasi, dan membujuk. Tanpa artikulasi skill, yang menang adalah yang paling keras atau paling licik, bukan yang paling bernalar.
Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan di Rumah (Lawan Arus Kurikulum)?
- Ganti Pertanyaan “Apa Jawabannya?” dengan “Bagaimana Menurutmu?”. Saat anak cerita pelajaran, jangan tanya “Jawaban nomor 3 apa?”. Tanya, “Menurut kamu, kenapa sih penjahat dalam cerita ini melakukan itu?” atau “Kalau kamu jadi tokoh utamanya, apa yang akan kamu lakukan beda?” Paksa otaknya merangkai narrative.
- Adakan “Show & Tell” Mingguan yang Rendah Stres. Bukan untuk dinilai. Cuma buat latihan. Setiap akhir pekan, setiap anggota keluarga (termasuk ortu) pilih satu benda, satu kejadian, atau satu ide, dan ceritakan selama 2 menit. Nggak perlu formal. Intinya biasakan bicara runtut.
- Dengarkan Aktif & Ajukan Pertanyaan Lanjutan. Kalau anak lagi cerita, jangan potong. Dengarkan. Lalu ajukan pertanyaan yang mendorong dia menjelaskan lebih dalam. “Wah seru ya, terus pas itu kamu ngerasa gimana?” atau “Kenapa kamu pikir temanmu bereaksi kayak gitu?” Ini melatih artikulasi dan empati.
- Batasi Pilihan Ganda, Dorong Esai Mini. Di luar sekolah, kurangi latihan soal pilihan ganda. Minta anak menulis jurnal pendek 3 kalimat tentang harinya. Atau suruh dia bikin “iklan” untuk bukunya yang sedang dibaca. Aktivitas yang memaksa output dalam bentuk narasi.
Kesalahan yang Tanpa Sadar Memperparah ‘Articulation Gap’
- Mengganggu & Melengkapi Kalimat Anak. Dia lagi berusaha nyusun kata, kita buru-buru nyeletuk “Oh, maksudnya kan…”. STOP. Itu kita merampas kesempatan latihannya. Beri dia waktu, bahkan jika ada jeda yang canggung.
- Terlalu Fokus pada Tata Bahasa Saat Dia Sedang Berbicara. “Itu loh, tenses-nya salah.” Saat anak sedang berusaha mengalirkan ide, kritik tata bahasa akan shut them down. Fokus dulu pada isi dan keberanian menyampaikan. Perbaikan tata bahasa bisa dilakukan nanti, dengan cara yang lebih konstruktif.
- Menganggap Tugas Kelompok Adalah Beban, Bukan Kesempatan. Tugas kelompok yang sehat seharusnya melatih diskusi, pembagian peran, dan penyusunan ide bersama. Jangan malah memisahkan bagian anak dan mengerjakan sendiri-sendiri. Biarkan dia mengalami proses berantakan tapi penting itu: berdebat, mencari kata, dan menyepakati sesuatu.
- Meremehkan Kegiatan ‘Non-Akademis’ seperti Drama atau Debat. Ekstrakurikuler teater, debat, atau podcast sekolah adalah tempat terbaik melatih skill artikulasi. Dukung anak ikut, bahkan jika nilainya di mapel eksakta sedikit turun. Skill ini yang akan menentukan di dunia kerja dan masyarakat nanti.
Kesimpulan: Kita Tidak Hanya Butuh Problem-Solver, Tapi Problem-Explainer
Kurikulum 2025 yang obsesif pada answering skill menghasilkan generasi yang jago mengisi ruang kosong, tapi gagap mengisi ruang sunyi dengan gagasannya sendiri. Mereka bisa menjawab, tapi tidak bisa memulai percakapan.
Ini ancaman untuk demokrasi. Karena demokrasi bukan cuma soal memberikan suara. Tapi tentang memperdebatkan arah, tentang meyakinkan sesama, tentang membangun konsensus melalui kata-kata. Tanpa artikulasi skill, ruang publik akan diisi oleh retorika kosong dan emosi mentah.
Tugas kita sebagai orang tua bukan cuma memastikan anak lulus ujian. Tapi memastikan mereka bisa berdiri tegak, menatap lawan bicara, dan dengan tenang berkata, “Izinkan saya menjelaskan.” Karena masa depan bukan hanya milik yang punya jawaban. Tapi milik yang bisa bercerita tentang mengapa jawaban itu penting.
